Sanggahan Terhadap Dr. Zakir Naik Bagian 2

Artikel Menarik Lainnya :



PENDAPAT ZAKIR NAIK MENGENAI SUNAT, MAKAN BABI, DAN MINUM ANGGUR

Dibawah ini adalah argumentasi menurut Dr. Zakir Naik
Zakir Naik mengatakan bahwa Muslim lebih Kristen daripada orang Kristen dikarenakan Yesus pada umur 8 tahun bersunat sedangkan orang kristen tidak bersunat dengan dalil di Matius 5:17. Lukas 2: 21 (Sunat), Yesaya 65:2-5, Imamat 11:7-8 (makan babi). Dia mengatakan bahwa kami Muslim tidak makan babi tetapi Kristen makan babi. Kitab Efesus 5:18 dan Amsal 20:1 (Minum alkohol), kamu tidak boleh minum alkohol, Muslim tidak minum alkohol tetapi Kristen semuannya minum alkohol. Jadi jika Kristen berarti seorang yang mengikuti ajaran Yesus maka kami Muslim lebih Kristen daripada umat Kristen itu sendiri.
Sanggahan dari kami
            Pada kesempatan kali ini kami akan mengkritisi pendapat Zakir Naik mengenai tiga hal yang pertama adalah mengenai Sunat, makan babi , dan minuman alkohol. Pertama kami akan membahas atau menjelaskan latarbelakang sunat yang memang sebenarnya hukum ini berasal dari Perjanjian Lama dan mungkin kami juga akan megupas alasan-alasan dari hal tersebut.
1. Sunat
Matius 5: 17
17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Lukas 2: 21
“21 Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.”
            Sebenarnya soal hukum sunat ini memang sering jadi persoalan dalam dialog-dialog Kristen-Islam. Biasanya, “kelompok Polimikus” (Orang yang melakukan pendekatan Polemis/ asal comot ayat dan minim kajian ilmiah dalam perjumpaan perdebatan Kristen Islam) tersebut mempersoalkan hal sunat ini, yang kemudian dikait-kaitkan dengan Paulus. Menurut Zakir Naik disini, jika memang umat Kristen sebagai pengikut Yesus mengapa tidak disunat seperti Yesus. Padahal kalau kita baca di dalam Taurat Perjanjian Lama dan para Nabi jelas memerintahkan sunat.
            Untuk hal itu kami akan membahas mengenai seputar makna Teologis dari sunat dalam Perjanjian Lama dan juga soal hakikat sunat. Hal ini penting untuk kita ketahui, terutama kita yang selama ini memahami sunat hanya dalam aspek lahiriah saja. Padahal makna sunat ini bukan hanya bicara aspek lahiriah saja. Jika hanya ditilik dari aspek lahiriah saja, maka tidak ada hal yang istimewa dalam praktik sunat ini dan kita tidak akan menemukan apa-apa jika kita meninjau hanya dari lahiriah saja selain manfaat untuk kesehatan. Untuk mengerti makna sunat ini, tentu kita harus melihat dari sudut pandang Allah. Yakni, sebuah simbol perjanjian antara Allah dan umat-Nya dan itu dimulai dari pada sosok Ibrahim. Perjanjian itu sendiri diberikan ketika Ibrahim berumur 99 tahun. Segera setelah mendapat perintah sunat tersebut, Ibrahim segera menyunatkan dirinya beserta anaknya Ismail yang saat itu berusia 13 tahun.
            Di dalam perjanjian sunat tersebut, Allah menetapkan usia 8 hari sebagai waktu untuk menyunat anak-anak tersebut (Kejadian 17:12).Dan Ishak sebagai anak yang dijanjikan Allah kepada Ibrahim telah disunat sesuai waktu yang ditentukan Allah.
Kejadian 21: 4
“4 Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya.”
Memang dalam kitab Taurat dan para Nabi, sunat tidak dimaknai secara dangkal sekedar syarat-syarat agamawi. Bahkan Allah mencela sunat lahiriah yang tidak dibarengi dengan sunat hati.
Ulangan 10: 16
            “16 Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.”     
Ulangan 30: 6
“6 Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup.”
            Melalui ayat-ayat di atas, dapat dilihat bahwa “sunat hati” sangat penting ketimbang sekedar membanggakan sunat lahir. Sunat hati berarti mengerat kulup hati yang menghalangi pertobatan pada Allah. Nyata disini bahwa dalam sudut pandang Kitab Perjanjina Lama, sunat hati lebih esensial daripada sekadar sunat lahiriah. Soal ini juga disinggung dalam tulisan Nabi Yeremia yang tanpa basa basi menegur bangsa Israel.
Yeremia 4: 4
“4 Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu, hai orang Yehuda dan penduduk Yerusalem, supaya jangan murka-Ku mengamuk seperti api, dan menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkan, oleh karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat!"
            Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan bahwa sunat lahir bukanlah segala-galanya. Berulangkali Tuhan mencela praktik ritual keagamaan bangsa Israel yang tidak didampingi dengan pertobatan hidup (Yesaya 1: 10-20). Harus ditekankan sekali lagi bahwa pada awalnya sunat adalah lambang perjanjian antara Allah dan umat Israel.
            Dari semua penjelasan diatas mengenai hal sunat yang ada di dalam kitab Taurat Perjanjian Lama dan para Nabi, maka akan timbul pertanyaan. Kenapa Yesus sendiri disunat? Ya, Yesus memang disunat sesuai dengan surat Lukas 2: 21. Paulus juga menguatkan fakta tersebut dalam suratnya.
Galatia 4: 4
“4 Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”
            Sebenarnya kedatangan Mesias bertujuan untuk menggenapi segala aturan-aturan hukum Taurat. Karena itu, sunat sebagai bagian ritus keagamaan dalam Yudaisme, juga dilakukan atas Mesias.
            Jadi disini sudah jelas bahwa Yesus di sunat itu bukan semata-mata hanya secara lahiriah, akan tetapi memang Yesus disunat karena pengaruh tradisi Yahudi, sebab Ia dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan, dilahirkan dari yang takluk kepada hukum Taurat, untuk membebaskan mereka yang takluk kepada hukum Taurat.
            karena Kristus disunat, maka bangsa Yahudi tidak mempunyai alasan untuk tidak menerima Kristus. Kristus juga menunjukkan bahwa ketaatan untuk menjalankan perintah Tuhan sesungguhnya sangatlah penting, sehingga Dia disunat pada hari ke delapan Dengan mengambil dan menjalankan sunat, maka Kristus dapat membebaskan manusia dari hukum ini dan memberikan hukum yang lebih sempurna (Galatia 4:4-5) yaitu sunat secara rohani.
            Jadi maksud sunat rohani adalah bagimana “menanggalkan manusia lama berserta segala hawa nafsunya …dan mengenakan manusia baru di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:22-24). Maka inilah makna “sunat” yang baru, yang tidak lagi berupa penanggalan/ pemotongan kulit lahiriah, tetapi penanggalan hawa nafsu dan dosa dan mengenakan hidup yang baru di dalam Roh Kudus.
            Dan juga sebenarnya yang ingin ditekankan Yesus adalah dimensi spiritual dari “sunat” seperti yang sebelumnya telah diajarkan dalam PL, bahwa yang terlebih utama adalah sunat hati/ rohani (Ulangan 10:16 dan 30:6, Yeremia 4:4, 9:25-26). Seperti juga Yesus mengajarkan bahwa yang terpenting bukan apa yang terlihat dari luar, tetapi yang ada di dalam hati; bukan menerapkan hukum supaya terlihat baik dari luar, namun agar kita melakukan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (Matius 23:5, 23).
            Jadi dari fakta-fakta ini bisa kami tarik kesimpulan bahwa pendapat Zakir Naik di atas sangatlah keliru dan dia tidak bisa memberikan bukti yang jelas dan mendasar dan hanya sekedar mengotak atik ayat saja secara tekstual tanpa melihat dari sudut pandang kontekstualnya.
2. Makan Babi
Yesaya 65: 2-5
“2 Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri; 3 suku bangsa yang menyakitkan hati-Ku senantiasa di depan mata-Ku, dengan mempersembahkan korban di taman-taman dewa dan membakar korban di atas batu bata; 4 yang duduk di kuburan-kuburan dan bermalam di dalam gua-gua; yang memakan daging babi dan kuah daging najis ada dalam kuali mereka; 5 yang berkata: "Menjauhlah, janganlah meraba aku, nanti engkau menjadi kudus olehku!" Semuanya ini seperti asap yang naik ke dalam hidung-Ku, seperti api yang menyala sepanjang hari.”
Imamat 11: 7-8
“7 Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. 8 Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.”
            Sebenarnya soal makanan ini memang sering dipersoalkan dalam dialog teologis Kristen-Islam. Banyak kalangan yang mengatakan tentang Paulus bahwa dia telah merombak hukum Kashrut/ Hukum Yahudi tentang makanan ini. Kelompok “Polemikus” tersebut menafsirkan tulisan Paulus secara salah, yang kemudian dianggapnya sebuah penyelewengan terhadap Hukum Taurat. Mungkin kita coba melihat salah satu tulisan Paulus di dalam:
1 Timotius 4: 4-5
“4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, 5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.
            Kemudian tanpa mengubris konteks ayat tersebut, mereka mempertentangkan tentang tulisan Paulus dengan kitab Taurat perihal makanan khususnya babi. Menurut mereka, Taurat sangat jelas mengharamkan babi, tetapi Paulus mengatakan semua makanan itu tidak ada yang haram. Pengambilan keputusan seperti halnya Zakir Naik ini perlu diluruskan. Bukan karena berkaitan dengan Paulus saja, tetapi isu ini menarik untuk dibahas dalam dialog Islam-Kristen.
            Pertama yang harus dipahami mengenai istilah “haram” dan “halal” soal makanan dalam Alkitab tidak dimaknai secara hukum syari’at. Maksudnya hal ini bukan soal dosa atau tidak. Meskipun dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia digunakan kata “haram” dan “halal”, tetapi artinya agak berbeda dengan pemahaman yang ada di Islam. Mungkin ada baiknya juga kalau kita simak dalam kitab Taurat yang berbahasa asli Ibrani:
Imamat 11: 47
“Le Havdil ben hat- tame u-ven hat-tahor, u-ven ha-khayyah han-ne’ekelet u-ven ha-khayyah asyer lo te’ akel”
Artinya : “Yakni untuk membedakan antara yang najis dengan yang tahir, antara makanan yang boleh dimakan dengan binatang yang tidak boleh dimakan.”
            Keseluruhan peraturan mengenai makanan ini dapat dibaca dalam Imamat 11: 1-47. Dalam ayat-ayat tersebut, Allah memberikan rincian mengenai makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan. Kata yang diterjemahkan “najis”, didalam bahasa Ibrani adalah “Tame”, artinya adalah “unclean”, tidak bersih dan kotor. Sedangkan kata “tahir”, berasal dari bahasa Ibrani “Tahor”. Jika melihat keseluruhan pasal ini dan pasal-pasal selanjutnya, didalamnya berisi ketentuan Allah yang mengatur mengenai kehidupan lahiriah dari umat Allah. Mulai dari hal makanan, sanitasi, dan juga aturan-aturan mengenai kelahiran anak.
            Pada awalnya, hukum mengenai makanan tersebut hendak mengatur pola makan dan kesehatan umat Allah. Dan memang, daftar binatang yang dilarang untuk dimakan tersebut kurang baik dari segi kesehatan. Seperti misalnya, kerang-kerangan laut yang berpotensi mengandung pestisida yang sangat tinggi. Tuhan memberikan aturan ini untuk kesehatan umat-Nya, namun pada saat itu ada kelompok tertentu yang menjadikan aturan tersebut sebagai sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan. Karena itu, Yesus sendiri pernah menegur pandangan seperti ini diantara orang Yahudi.
Markus 7: 18-20
“18 Maka jawab-Nya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, 19 karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. 20 Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,”
            Dalam ayat diatas, meskipun tidak menyinggung langsung soal makanan “Tahor” dan “Tame”, Yesus menegur kelompok Farisi yang hanya melihat dimensi “Eksoteris” (hal lahiriah) ketimbang hakikat hukum Tuhan. Kenajisan sejati bukan karena tidak mencuci tangan sebelum makan, tetapi pada apa yang keluar dari hati seseorang. Yakni, pikiran dan hawa nafsu yang jahat. Hal esensial ini sering dilupakan oleh orang Farisi. Demikian juga soal makanan “Tahor” dan “Tame”, yang pada awalnya sebagai pola makanan umat Allah, tapi dibelokkan sampai hilang esensinya.
            Hal inilah yang ditekankan Paulus dalam surat tersebut diatas. Sasaran tulisan Paulus adalah “kelompok Legalis” Yahudi dan juga ajaran dari “kelompok Gnostik”. Kedua kelompok bidat ini terus berusaha menyesatkan jemaat Kristen mula-mula sasat itu. Menurut Barcly, seorang Teolog Protestan yang cukup menguasai sejarah Gereja purba, kelompok Legalis Yahudi dan kelompok Gnostik saat itu sering bergandengan tangan. Artinya, paham antara keduannya sering kali bercampur, dan digunakan untuk menyesatkan umat Kristen zaman itu. Dalam konteks inilah Paulus menulis suratnya kepada Timotius, anak ruhaninya tersebut. Jadi, tulisan Paulus itu tidak bermaksud menyelewengkan ajaran Yesus sebagaimana yang sudah kami jelaskan diatas tersebut. Yesus telah menjabarkan makna dari hukum-hukum penyucian dalam hukum Taurat. Bahwa penyucian jasmani itu memang penting, tetapi jangan sampai mengabaikan hal yang lebih mendasar, yakni kesucian spiritual. Karena kebersihan lahiriah, jika tidak dibarengi aspek ruhani, seringkali menjadi ajang pamer ruhani. Sekedar mengutip sabda Yesus “Mereka itu bagaikan kuburan yang dilabur putih” (Matius 23: 27). Hanya kelihatan bersih dari sisi luar, tetapi kotor bagian dalam. Hal inilah yang juga dimaksudkan Paulus dalam suratnya pada jemaat Korintus:
2 Korintus 7: 1
Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.”
            Dalam surat diatas, Paulus mengajarkan dua aspek hukum Tuhan yang harus diperhatikan. Yakni dimensi lahir, yang harus memang diperhatikan dengan baik asal tidak menggeser makna sebenarnya dari hukum itu sendiri. Dan dimensi batin, yang merupakan hakikat yang terdalam dari hukum itu sendiri.
            Lalu bagaimana aplikasi hukum makanan dalam kitab Taurat pada masa kini. Hukum-hukum itu bersifat lahir, dan tidak berkaitan dengan keselamatan. Umat Kristen boleh makan apa yang sebelumnya dilarang dalam hukum Taurat, tetapi dalam konteks tertentu. Misalnya, ketika dijamu oleh orang non Yahudi, yang memang tidak mengerti hukum makanan tersebut. Orang Kristen boleh memakannya untuk menghormati tuan rumah. Oleh sebab itu perihal mengenai makanan perlu kita pahami dengan baik. Dalam konteks ini, kiranya tulisan Paulus dibawah ini penting untuk di catat:
1 Korintus 8: 8
“8 "Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan."
            Jadi ayat diatas mengkritik kelompok-kelompok yang berusaha mendapatkan manfaat spiritual melalui makanan. Seharusnya, makanan ditaruh pada fungsinya sebagai kebutuhan tubuh manusia. Dan bukan sarana untuk mencapai hal-hal spiritual.
Al-Imran ayat 50:
وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ ۚ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ
Artinya: “Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untukmenghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”
3. Minum Anggur
Efesus 5: 18
“18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh”.
Amsal 20:1
“Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya.”
Pertama yang ingin kami tanyakan tentang pernyataan Zakir Naik bahwa orang Kristen semua minum anggur ini. Sebenarnya tidak ada satu ayat pun dalam Injil yang disuruh minum anggur dalam konteks berlebihan. Tetapi kenapa Yesus dan murid-murid-Nya minum anggur disaat perjamuan kudus, pada konteks pada zaman itu adalah disaat Yesus minum anggur dengan murid-murid-Nya dalam perjamuan kudus itu untuk melambangkan darah Yesus disaat Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia supaya hal itu bisa diingat oleh murid-murid-Nya. Makanya sampai saat ini semua umat Kristen selalu minum Anggur di saat perjamuan kudus untuk mengingat kematian Yesus.
Matius 26: 26-28
“26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." 27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. 28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”
Dan alasan lain sebenarnya minum anggur itu hanya sekedar untuk diambil sari anggur fermentasi karena memang pada zaman itu digunakkan untuk hal medis. Itupun dosis dalam penggunaanya harus juga perlu diperhatikan.
            Sebenarnya yang dilarang Alkitab itu apabila dalam penggunaan anggur yang berlebihan sehingga mengakibatkan mabuk. Jangankan anggur, di dunia medis kita saat ini saja narkotik juga dipakai untuk pengobatan yang penting sesuai dengan dosis penggunaan dan tujuannya apa.
            Jadi dari sini bisa kami tari kesimpulan dari pernyataan Zakir Naik mengenai hal sunat, makan babi, dan juga minum anggur. Zakir Naik hanya sekedar mencomot ayat saja tanpa memahami konteks dari ayat tersebut dan dia hanya melakukan hal itu tanpa didasari bukti secara ilmiah dan hanya untuk bahan serangan bagi orang-orang yang tidak sepaham dengan dia. Zakir Naik juga sering sekali memaknai ayat-ayat diatas hanya dalam aspek lahiriah saja tanpa melihat aspek ruhaniah yang memang itu sebenarnya yang ditekankan dalam ayat-ayat yang sudah Zakir Naik kutip diatas.
            Terlepas dari semua itu, kami menuliskan hal ini hanya semata-mata untuk pengetahuan kita supaya setiap apa yang kita dengar itu tidak langsung kita klaim adalah suatu kebenaran. Kami juga berharap bagaimana dengan tulisan ini para pembaca bisa memahami setiap apa yang akan kita katakan harus kuat secara fakta dan referensi yang ada dan jangan sampai kita disesatkan dengan suatu perkataan yang belum tentu benar kebenarannya. Tulisan yang kami tuangkan ini bukan semata-mata dari pemikiran kami yang tidak memiliki dasar yang kuat akan tetapi memang kami mencoba membandingkan setiap perkataan yang Dr. Zakir Naik katakan dengan fakta secara langsung dalam kitab Taurat, Zabur maupun Injil serta dengan tafsir-tafsir Alkitab sendiri serta melakukan penelitian langsung ke beberapa Pendeta yang memang meyakini kepercayaan kitab tersebut.
           




IKLAN DISINI

0 Response to "Sanggahan Terhadap Dr. Zakir Naik Bagian 2"

Post a Comment